Rasulullah Sebagai Ayah Teladan Bagi Ummat

Rasulullah Sebagai Ayah Teladan - Sudah menjadi kehendak Allah bahwa tidak ada anak laki-laki Nabi saw yang hidup sampai usia dewasa, padahal pada masa itu orang-orang Arab sangat bergantung dan suka serta membanggakan diri dengan banyaknya anak laki-laki. Dalam pandangan mereka, anak laki-laki adalah sumber kekuatan, kemuliaan, serta kesenangan.

Bukti paling jelas tentang ini tergambar dari sikap ‘Abdul Muthalib, kakek Rasulullah saw, pada masa jahiliyyah. Ketika ‘Abdul Muthalih tahu bahwa dirinya dianggap lemah karena hanya mempunyai sedikit anak laki-laki, ia bernadzar bila kelak dikaruniai sepuluh anak laki-laki dan mereka semuanya dapat mencapai usia dewasa, ia akan mengorbankan salah seorang dari mereka kepada Allah di sisi Ka’bah.

Rasulullah Sebagai Ayah Teladan Bagi Ummat

Para pemuka Quraisy yang membenci Nabi Muhammad saw dan dakwahnya, seperti Al-‘Ash bin Wa’il, ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, Abu Lahab, Abu Jahal, dan lainnya, juga mengejek Nabi saw dengan panggilan Abtar (terputus), yang dimaksud tidak memiliki anak laki-laki. Sampai-sampai diantara mereka ada yang mengatakan: “Biarkan saja Muhammad, karena dia akan mati tanpa meninggalkan keturunan dan dengan begiti tamatlah riwayatnya.”

Riwayat-riwayat diatas merupakan bukti yang sangat jelas bahwa banyaknya anak laki-laki dalam pandangan masyarakat Arab Jahiliyyah merupakan suatu kebanggan dan tanda kemuliaan. Akan tetapi, Allah mencela pandangan mereka ini dengan menurunkan surat At-Takaatsur:

“Bermegah-megahan (dalam hal harta dan anak laki-laki) telah melalaikan kalian … (dan seterusnya).”

Dalam lingkungan masyarakat yang hanya membanggakan keturunan laki-laki inilah, Rasulullah saw justru memberikan teladan yang baik bagi kaum muslim, para ayah, dan para pendidik sepanjang masa tentang cara memperlakukan anak-anak. Teladan ini bias kita temukan dalam tingkah laku dan ucapan-ucapan beliau.

Dalam riwayat-riwayat tersebut kita juga bisa merasakan betapa dalamnya perasaan kebapakan Nabi saw kapada anak-anaknya. Beliau memberikan rasa cinta, kelembutan, dan kasih saying terhadap anak-anak, baik yang laki-laki maupun yang perempuan secara sama tanpa membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Allah berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dang seorang perempuan (Adam dan Hawa) dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Senungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa….” (QS. AL-HUJURAAT (49): 13)

Atas dasr bahwa setiap pendidik, terutama orang tua, mempunyai tangungjawab yang amat besar dalam mendidik anak-anak dengan didikan yang benar berdasarkan aqidah islam dan metode Islami –dengan harapan agar mereka menjadi para pejuang dan tokoh pada masa depan-, tidak ada pilihan lain bagi para pendidik dan orang tua, selain harus mengetahui dan menerapkan metode yang diterpakan oleh Rasulullah sawdalam mendidik anak-anak beliau, cucu-cucu beliau; bahkan anak-anak para sahabat beliau, yang mana dengan metode yang beliau terapkan itu, mereka berhasil menjadi generasi paling unggul.

Dalam pembahasan berikut ini kan kami bahas secara singkat tentang kehidupan Rasulullah saw sebagai seorang ayah yang penyayang dan tegas.

Selanjutnya >>>