Khadijah Binti Khuwailid – Tokoh wanita Quraisy yang Suci (Part 2)

Khadijah Binti Khuwailid – Tokoh wanita Quraisy yang Suci (Part 2) 

Sikap sang istri yang berpikiran cerdas dan bijak sana itu tidak akan berhenti hanya sampai di situ. Khadijah segera mendatani anak pamannya, Waraqah bin Naufal dan menceritakan kejadian yang dialami suaminya. 

Mendengar cerita tersebut, Waraqah langsung berseru : “Qudduus, Qudduus!” (Mahasuci, Mahasuci!) “Demi jiwa yang Waraqah berada dalam kekuasaan-Nya, jika engkau mempercayaiku, wahai Khadijah sungguh telah dating kepadanya wahyu yang mahabesar, sebagai mana yang telah dating kepada Nabi Musa dan ‘Isa as.. sesungguhnya Muhammad akan menjadi Nabi bagi umat ini. Katakan kepadanya supaya ia tetap tegar.” Khadijah segera kembali kerumahnya untuk menyamaikan kabar gembira tersebut kepada suaminya. 

Setelah itu Khadijah mengajak Nabi untuk menemui Waraqah dengan maksud agar beliau mendengar langsung dari Waraqah tentang peristiwa yang dialaminya di gua Hira’. Sesampainya Nabi dan Khadijah di rumah Waraqah bin Naufal, beliau kemudian menceritakan kejadian yang dialamnya. Waraqah pun berseru: “ Demi DZat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya. Sungguh engkau akan menjadi Nabi untuk Umat ini dan engkaupun akan didustakan, disakiti, diusir, dan di perangi. Seandainya aku masih hidup pada saatnya nanti, niscaya akua akan menolongmu sekuat tenagaku.” Waraqah pun mendekati Nabi Muhammad dan mencium Ubun-ubunnya.

Khadijah Binti Khuwailid – Tokoh wanita Quraisy yang Suci (Part 2)

Setelah mendengar perkataan Waraqah yang demikian itu, beliau bertanya: “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab: “Ya, karena tidak seorangpun yang dating membawa risalah seperti yang engkau bawa ini, melainakan ikan akan dimusuhi. Alangkah baiknya kalau akau menjadi muda lagidan alangkah baiknya kalau pada saat nanti aku masih hidup. Namun, tak lama kemudian Waraqah wafat.

Keterangan Warqah tersebut telah membuat hati Nabi merasa tenang, sebab beliau sudah mengetahui bahwa sejak awal dakwahnya nanti, beliau akan menghadapi berbagai rintangan dan hambatan, dan itulah sunnatullah yang pasti berlaku bagi semua Nabi dan para penyeru kepada jalan Allah. Dengan demikian, setiap ejekan dan penghinaan yang dilontarkan orang musyrik, beliau hadapi dengan sabar dan ikhlas semata-mata mencari Ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Khadijah adalah wanita pertama masuk Islam dan beriman kepada Allah da Rasul-Nya. Istri mukminah yang besar cintantanya ini pun tampil memberikan segenap bantuan dan pertolongan kepada Nabi Muhammad sang suami tercinta. Dengan setia sia menolong suaminya dalam menanggung beban yang amat berat akibat ejekan dan penghinaan yang begitu kejam, sehingga berkat bantuannya, Allah pun menjadikan semua itu terasa ringan oleh Nabi berkat kepiawaian Khadijah, karena setiap Nabi pulang menemui Khadijah, Khadijah selalu memotivasi dan menguatkan hati Nabi, membenarkan diri Nabi, dan mengatakan kepada Nabi bahwa semua rintangan yang dating dari orang-orang kafir itu ringan.

Suatu ketika ketika tatkala Nabi dalam keadaan berselimut, turunlah wahyu Allah kepada beliau melaui malaikat Jibril:

Hai orang-orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan (kepada kaummu) ; agungkanlah Tuhanmu (dengan melakukan ibadah kepada-Nya) ; bersihkanlah pakaian mu; tinggalkanlah semua perbuatan dosa; janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak; dan sabarlah dalam melaksanakan ketaatan kepada Tuhanmu.” (Q.S. AL MUDDATSTSIR (74) :1-7)